Begini Jawaban Mantan Bupati Herman Terkait Skandal Radioterapi Eks Dirut RSUD Sayang

by -13 views
Breaking News

CIANJUR, – Hukum yang seharusnya jadi harapan hidup. Kini menjadi bukti kebobrokan.

Banyaknya antrean pasien kanker yang kini makin bertumbuh dan masyarakat saat ini membutuhkan radioterapi, mantan Dirut RSUD Sayang Cianjur justru malah terseret dengan ramainya dugaan korupsi pengadaan alat yang bernilai Rp10 miliar sampai hari ini barangvtersebut tak pernah muncul dipermukaan.

Proyek ini bermula pada tahun 2024 yang menggunakan dana BLUD. Dengan nilai sebesar itu, prosesnya justru dipotong. Tidak ada lelang di LPSE. Penunjukan langsung jadi jalan pintas.

Lebih konyolnya, uang muka Rp2 miliar langsung ditransfer ke rekanan. Tanpa ada jaminan pelaksanaan. Tanpa kejelasan barang tersebut datang.

Menurut Endan Hamdani, bahwa. Pada prinsipna itda sejauh ini sudah melakukan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan, tindaklanjutnya sdh ada sebagian pengembalian, dan masalah ini sudahh kita laporkan ke kejaksaan melalui kasi datun.Ucapnya.

Tahun 2025, Inspektorat Daerah Cianjur membongkarnya lewat audit. Hasilnya: alatnya ternyata tidak ada. Fisik nihil. Inspektorat langsung memerintahkan uang dikembalikan dalam 60 hari.

Faktanya? Hampir 1 tahun berlalu. Baru kisaran Rp400 juta yang sudah dikembalikan ke kas daerah. Sedangkan sisa Rp1,6 miliar masih belum jelas rimbanya.

Kini kasus tersebut sebenarnya sudah di meja Kejaksaan Negeri Cianjur.

Kasi Intel Kejari Cianjur Angga Insana Husri membenarkan pihaknya sedang mendalami.

“Ya kita lihat sejauh mana peristiwanya,” ujarnya, Rabu (6/8/2026).

Isu keterlibatan politik Pilkada 2024 pun mencuat dengan kental. Hingga mantan Bupati Cianjur H.Herman Suherman saat konfirmasi membantah adanya keterlibatan dalam proyek radioterapi.

“Saya tidak pernah ikut campur dalam pengadaan di semua OPD termasuk RSUD. Saya perintahkan agar mengacu pada aturan dan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya via WhatsApp, Rabu (6/8/2026).

Sementara mantan Direktur RSUD Sayang dr. Irvan Nur Fauzi, yang disebut paling paham proyek ini, memilih bungkam saat dikonfirmasi.

Ini bukan sekadar soal uang. Ini soal nyawa.

Saat ini pasien di cianjur sangat butuh alat tersebut untuk bertahan hidup, dengan logika proyek mengalahkan logika medis. Dan negara gagal melindungi rakyatnya. ***GI***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *