GMNI Cianjur Kecam Kasus Keracunan Massal MBG, Desak Program Dihentikan Sementara

by -24 views
Breaking News

CIANJUR – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Cianjur. Per Kamis (11/9/2025), sebanyak 36 siswa dari SDN Salakawung dan  SMP Budi Luhur di Desa Sarampad,

Kecamatan Cugenang, mengalami gejala mual, muntah, dan pusing usai menyantap makanan MBG yang diduga mengandung zat berbahaya.

Menanggapi hal tersebut, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Cianjur mengecam keras berulangnya kasus serupa yang dinilai sebagai kegagalan sistemik.

Lebih dari 200 Siswa Jadi Korban

Ketua DPC GMNI Kabupaten Cianjur,Rama Agusrama Tunggara, menyebut insiden ini bukan lagi kasus insidental, melainkan kebobrokan sistem yang serius.

“Sejauh ini kita sudah mencatat bahwa kasus ini bukan kali pertama terjadi di Cianjur. Sebelumnya, pada April 2025, sebanyak 165 siswa dari MAN 1 Cianjur dan SMP PGRI I juga mengalami hal serupa. Artinya, sudah lebih dari 200 siswa di Cianjur menjadi korban program yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah,” ungkap Rama.

Kritik Keras terhadap Program MBG

GMNI menilai program MBG di Cianjur telah gagal secara struktural dan kehilangan tujuan mulia. “Program MBG hari ini tidak lagi mencerminkan keberpihakan kepada rakyat kecil, tetapi berubah menjadi alat proyek yang abai pada keselamatan. Ini adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap Marhaen—anak-anak rakyat jelata—yang justru diracuni oleh sistem negara yang seharusnya melindungi mereka,” tegasnya.

Tuntutan GMNI Cianjur

Dalam pernyataannya, GMNI Cianjur menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, di antaranya:

Cabut izin penyedia makana yang terbukti lalai. Berikan sanksi pidana bila ditemukan unsur kelalaian berat atau kesengajaan.

Audit menyeluruh terhadap seluruh rantai distribusi MBG di Cianjur, termasuk SOP, manajemen dapur, SDM, dan bahan baku, oleh lembaga independen. Hentikan sementara program MBG di seluruh sekolah Cianjur hingga sistem benar-benar aman, terbuka, dan melibatkan masyarakat sipil.

Berikan kompensasi dan pendampingan penuh kepada para korban, termasuk siswa yang dirawat di Puskesmas Cugenang maupun yang mengalami gejala ringan.

GMNI: Anak Bangsa Bukan Korban Proyek Gagal

Rama menegaskan, Bung Karno pernah mengajarkan bahwa politik harus menyentuh isi perut rakyat, bukan meracuninya. Apa yang terjadi hari ini, menurut GMNI, adalah contoh tragis politik populis tanpa tanggung jawab.

“Anak-anak sekolah adalah pewaris bangsa, bukan korban proyek gagal. Kami tidak akan diam ketika generasi masa depan bangsa diperlakukan seperti objek eksperimen kebijakan yang buruk,” katanya.

GMNI Cianjur menutup pernyataannya dengan komitmen untuk terus mengawal persoalan ini.

“Kami berdiri di pihak rakyat. Kami akan terus mendampingi korban dan mendesak pertanggungjawaban hingga ke akar sistem. Bila perlu, kami akan turun ke jalan bersama rakyat menuntut keadilan,” pungkas Rama.(dkh/Rik).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *