Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan!! Saat Kepedulian Tak Lagi Berhenti di Ucapan
GARUT – Di tengah meningkatnya ancaman krisis lingkungan, kerusakan kawasan hulu sungai, dan menurunnya tutupan vegetasi di wilayah pegunungan, lebih dari 30 peserta yang terdiri dari masyarakat, relawan lingkungan dari Paguyuban Kolaborasi Hijau dan Jamaah Masjid Baiturrahmah Kiaracondong, Kota Bandung. tokoh kampung, pemuda memilih menjawab tantangan zaman dengan tindakan nyata, Sabtu (20/6/2026).
Mengusung tema “Hijrah untuk Alam, Aksi untuk Kehidupan, Menanam Kebaikan, Menuai Keberkahan”, kegiatan penanaman pohon dilaksanakan di dua lokasi strategis, yakni Bukit Cinta Kembar, Desa Mekarjaya, dan Hutan Edukasi Kolaborasi Hijau yang berada di belakang Saung Guyub Kolaborasi Hijau, Kampung Ciarileu, Desa Girinaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni menanam pohon. Ia merupakan pernyataan sikap bahwa perubahan lingkungan tidak akan terjadi hanya dengan diskusi, keluhan, atau unggahan di media sosial. Perubahan hanya lahir dari keberanian untuk turun ke lapangan dan bekerja bersama.
Pada kegiatan tersebut, peserta menanam berbagai jenis pohon konservasi bernilai ekologis tinggi, di antaranya Eucalyptus Rainbow (Eukaliptus Pelangi) dan Ganitri (Elaeocarpus ganitrus). Kedua jenis tanaman ini dipilih karena memiliki fungsi penting dalam memperkuat tutupan vegetasi, menjaga keseimbangan ekosistem, memperbaiki kualitas lingkungan, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Ketua kegiatan menyampaikan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini bukanlah akibat dari kurangnya pengetahuan, melainkan kurangnya tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
“Banyak orang memahami pentingnya menjaga alam, tetapi tidak semua bersedia meluangkan waktu untuk menanam satu pohon. Padahal, masa depan lingkungan ditentukan oleh tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama dan terus menerus,” ucapnya.
Bukit Cinta Kembar dipilih sebagai lokasi penanaman karena memiliki posisi penting sebagai kawasan tangkapan air dan bentang alam yang perlu dijaga keberlanjutannya. Sementara Hutan Edukasi Kolaborasi Hijau dikembangkan sebagai ruang belajar terbuka yang menghubungkan pendidikan lingkungan dengan aksi konservasi langsung di lapangan.
Di lokasi tersebut, peserta tidak hanya menanam pohon, tetapi juga berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kawasan hulu, memulihkan lahan kritis, serta membangun kesadaran ekologis sejak usia dini. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa konservasi lingkungan harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Momentum penanaman pohon kali ini juga membawa pesan reflektif yang kuat tentang makna waktu dan tanggung jawab manusia terhadap bumi.
“Jika tahun berganti tetapi kepedulian tak bertambah, maka waktu hanya berlalu. Namun jika kepedulian tumbuh dan aksi terus berlanjut, setiap tahun akan menghadirkan keberkahan bagi manusia dan alam,” Paparnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pergantian tahun, usia, maupun zaman tidak akan memiliki arti apabila tidak diiringi peningkatan kepedulian terhadap lingkungan. Sebaliknya, satu pohon yang ditanam hari ini dapat menjadi warisan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Melalui kegiatan ini, Kolaborasi Hijau bersama masyarakat berharap gerakan penghijauan tidak berhenti pada satu momentum, melainkan menjadi budaya yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Sebab menjaga alam bukan hanya tentang menyelamatkan pohon, melainkan menjaga sumber kehidupan, menjaga air, menjaga tanah, dan menjaga masa depan bersama.
Hijrah untuk Alam bukan sekadar slogan. Ia adalah keputusan untuk berpindah dari sikap acuh menjadi peduli, dari wacana menjadi aksi, dan dari kepentingan sesaat menuju keberlanjutan kehidupan. (****)














