Program Makan Bergizi Gratis di SD 1 Cibitung Tuai Kekecewaan, Orang Tua dan Guru Sebut Makanan Tidak Layak

by -2 views
Breaking News

CIANJUR – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan kualitas gizi anak sekolah, justru menjadi menuai polemik di SD 1 Cibitung, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Cianjur. Program yang baru berjalan beberapa hari ini memicu gelombang mengecewakan dari kalangan orang tua murid hingga memberi energi karena kualitas makanan yang dinilai jauh dari standar.

Kekecewaan ini mencuat setelah laporan bahwa penyajian makanan selama tiga hari terakhir dianggap tidak sesuai dengan amanat dan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat per 12 Maret 2026.

Keluhan Orang Tua: “Harapan Kami Tidak Terpenuhi”

Nia, salah satu orang tua murid di SD 1 Cibitung, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya saat melihat menu yang diberikan kepada anak-anak. Menurutnya, kualitas bahan dan komposisi makanan sangat jauh dari ekspektasi “bergizi” yang menjanjikan.

“Makanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar gizi yang diharapkan. Kami sebagai orang tua merasa sangat kecewa. Harapan kami untuk melihat peningkatan kualitas gizi anak-anak melalui program ini justru tidak terpenuhi,” ujar Nia dengan nada getir.

Para orang tua berharap ada evaluasi menyeluruh terkait vendor atau penyedia jasa makanan agar anggaran negara yang dikucurkan benar-benar berdampak pada kesehatan siswa, bukan sekadar formalitas pembagian nasi kotak.

Pihak Sekolah Mengaku Prihatin

Senada dengan orang tua, pihak sekolah pun merasa terbebani dengan kualitas makanan yang masuk ke lingkungan mereka. Pa Budi, salah satu guru di SD 1 Cibitung, mengakui secara terbuka bahwa kondisi makanan yang dibagikan kepada para siswa memang memprihatinkan.

“Makanan yang dipublikasikan memang tidak layak,” ungkap Pa Budi singkat, menggambarkan kondisi menu yang tidak memenuhi syarat kesehatan bagi pertumbuhan anak.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD 1 Cibitung, Temmy, menjelaskan bahwa dirinya pun telah melakukan langkah protes. Sebagai pemimpin yang baru saja bertugas di sekolah tersebut, ia mengaku sudah menangkap keganjilan dalam distribusi program MGB ini.

“Saya baru pindah ke SD Cibitung, dan saya juga pernah mengomplain masalah MGB ini sebelumnya. Kami ingin yang terbaik untuk siswa, tapi apa yang sampai ke sekolah memang perlu dievaluasi besar-besaran,” tutur Temmy.

Desakan Evaluasi Program

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas nasional yang diharapkan mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kecerdasan siswa. Namun, kasus di SD 1 Cibitung ini menjadi potret buram implementasi di tingkat akar rumput.

Masyarakat dan pihak sekolah kini mendesak instansi terkait, baik Dinas Pendidikan maupun dinas kesehatan setempat, untuk segera turun tangan melakukan audit terhadap penyedia makanan. Mereka berharap program ini tidak menjadi ajang pemanfaatan anggaran tanpa memperhatikan kualitas, sehingga manfaat nyata dapat dirasakan oleh anak-anak di Cianjur. (*)

Reporter | Deri | Editor | Redaksi | nusacitra.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *