
CIANJUR — Seorang warga Desa Muaracikadu yang enggan diketahui identitasnya merasa kecewa setelah mendatangi Puskesmas Sindangbarang untuk berobat batuk dengan menggunakan layanan BPJS. Pasien yang datang dengan keluhan batuk dan panas itu mengaku tidak mendapatkan pelayanan medis secara selayaknya.
Menurut keterangan keluarga pasien, setibanya di Puskesmas petugas hanya menanyakan sakit apa. “Istri saya jawab batuk dan panas. Tapi petugas bilang obat batuk dan panas sedang kosong, besok aja kembali lagi,” ujar suami pasien menirukan perkataan petugas.
Hal itu membuat pasien pulang tanpa obat dan tanpa penanganan medis lebih lanjut. Kondisi ini memaksa pasien untuk mengeluarkan biaya tambahan apabila harus membeli obat di tempat lain.
“Saya datang pakai BPJS, diberikan penangan medis atau diperiksa selayaknya orang sakit katanya, tapi ternyata obatnya kosong. Buat apa ada layanan BPJS, kalau harus beli obat dan berobat di tempat lain,” keluh warga tersebut.
Direktur LKBH: “Obat batuk aja bisa habis, gimana obat lain?”
Menyikapi hal tersebut, Direktur LKBH Baladhika Adhyaksa, Riki Rizki, S.H., menyayangkan kondisi di lapangan. “Obat batuk dan panas aja bisa habis dan kosong, gimana obat lainnya. Padahal kesehatan masyarakat adalah prioritas, seperti pesan Pak Gubernur Dedi Mulyadi,” ujar Advokat muda yang juga dipimpinan redaksi infonawacita.or.id.
Implikasi bagi pasien dan kepercayaan publik
Kekosongan obat di puskesmas tidak hanya menimbulkan beban ekonomi bagi pasien, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas layanan BPJS. Penundaan pengobatan bisa berdampak pada pemulihan pasien, bahkan memperparah kondisi kesehatan jika tidak segera ditangani.
Permintaan klarifikasi
Redaksi masih menunggu tanggapan resmi dari pihak Puskesmas Sindangbarang terkait penyebab kekosongan obat serta upaya yang akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.(*)
Reporter | rik | Ediotor Redaksi | nusacitra.com














